29 October 2006
21 October 2006
Konservasi Lingkungan di Kabupaten Ende
ditulis oleh :
bangooyi
pukul
23:13
2
komentar
Label : Lingkungan
02 July 2006
“ Gelombang Pasang” Kawasan Pantai Selatan Kota Ende
Pada dasarnya bahwa arus laut yang datang ke Pantai Selatan Kota Ende ditimbulkan oleh arus angin laut tenggara yang membawa massa air laut menuju ke Pantai. Bila disimak secara sudut pandang ilmiah, dengan analisis melalui pendekatan ilmu kebumian (geologi) dapat ditafsirkan, penyebab utama terjadinya gelombang pasang kawasan pantai Selatan Kota Ende adalah kombinasi antara gulungan ombak dan seretan arus. Karakter ombak laut (wave) di pesisir selatan kota Ende mulai dari pesisir Rate kelurahan Paupanda hingga Nangaba, umumnya berenergi tinggi dengan ombak besar. Ini karena pantai berbatasan langsung dengan laut lepas. Berdasarkan pengamatan bahwa, ada 3 (tiga) faktor pemicu terjadinya ombak di Pantai Ende, yaitu arus pasang-surut (swell), angin pantai (local wind), dan pergeseran (turun-naik) massa batuan di dasar laut Ende.
Di pantai selatan kota Ende, kombinasi antara gelombang pasang surut dan angin lokal yang bertiup kencang, khususnya saat musim Barat, akan menimbulkan ombak besar. Di tempat-tempat tertentu, penggabungan (interference) antara gelombang swell dengan gelombang angin lokal dapat membentuk ombak setinggi 2 - 3 m.. Gelombang ini dipicu oleh pergeseran naik-turunnya massa batuan di dasar samudera. Interaksi antara ketiga jenis gelombang (swell, gelombang angin lokal) itu diyakini dapat menghasilkan gelombang dahsyat yang tiba-tiba datang menyapu pantai. Bentuk morfologi dasar laut dilokasi Pantai Selatan Kota Ende yang cekung (Teluk) juga sangat memungkinkan terjadinya hempasan gelombang dahsyat ke pantai yang sekaligus memicu terjadinya arus seretan.
Sebagai pantai yang mengalami pengangkatan (uplifted shoreline) dengan proses abrasi cukup kuat, profil pantai selatan kota Ende umumnya memiliki zone pecah gelombang (breaker zone) dekat garis pantai. Akibatnya, zone paparan (surf zone) menjadi sempit. Bila terjadi interferensi gelombang, maka atenuasi ombak akan terjadi sehingga membentuk gelombang besar. Karena daerah paparannya sempit, meski gelombang akan pecah di zone pecah gelombang, hempasan ombaknya masih dapat menyapu pantai dengan energi cukup kuat.
Rekonstruksi Arus dan Morfologi Dasar LAut Pantai Selatan Kota Ende
Gelombang laut yang bekerja di kawasan pesisir selatan Kota Ende umumnya dibangkitkan dari laut lepas sebagai akibat interaksi antara angin dan permukaan laut. Perpindahan energi dari udara yang bergerak (angin) ke permukaan laut tersebut kemudian dirambatkan sebagai gelombang ke perairan dangkal. Di kawasan pesisir selatan Kota Ende , gelombang "merasakan" kehadiran dasar perairan yang semakin dangkal yang menyebabkan terjadinya perlambatan kecepatan dan penaikan tinggi gelombang. Pada kondisi tertentu, tinggi gelombang melebihi nisbah kesetimbangan antara tinggi dan panjang gelombang. Ketidaksetimbangan ini yang menyebabkan gelombang pecah.
Perubahan tinggi muka air laut merupakan suatu fenomena alam yang terjadi secara periodik mulai hitungan jam sampai tahunan. Peningkatan muka air laut adalah salah satu akibat yang ditimbulkannya. Akibat lanjutan yang diamati antara lain perubahan kondisi ekosistem pantai, meningkatnya erosi, makin cepatnya kerusakan bangunan dan terganggunya kegiatan penduduk seperti permukiman, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kondisi ini cenderung memburuk dengan meningkatnya pemanfaatan kawasan pantai yang berlebihan.
Pengikisan Badan Pantai dan Lereng, Contoh Kasus Pada Kampung Rate-Kelurahan Paupanda-Kecamatan Ende Selatan
Rate, sebuah kampung yang ada sekarang tidak seperti yang dahulu. Itulah secuil kisah yang diceritakan masyarakat pada saat dilakukannya pemantauan. Dahulu, kaki Tanjung Iya menjorok sampai ke laut.
Tahun 1993 badan pantai (pesisir) di lembah tanjung berkisar 80 meter dari pesisir yang ada sekarang. Fenomena perubahan ini sangat beralasan, lantaran sekitar tahun 2004 dan sebelumnya, telah terjadi peristiwa abrasi yang menyebabkan beberapa rumah hanyut dan prasarana jalan putus total.
Gelombang laut yang datang di pesisir dari arah selatan dibangkitkan dari laut lepas melalui kekuatan hidrodinamika (hydrodynamic forcing) menuju Tanjung Iya yang berfungsi sebagai benteng alami pertahanan pantai .
Akibat ulah masyarakat yang mengambil batu-batu untuk dijual sebagai bahan bangunan dan pengrusakan habitat hidup secara tak terkendali menyebabkan lama kelamaan badan pantai alami terkikis sedikit demi sedikit dan berkurang (abrasi).
Ini menyebabkan tanggapan morfodinamika (morphodynamic response) terhadap arus laut yang datang semakin kecil. Area bukaan pesisir (Coastal Opened Area) semakin melebar, sehingga sudut datang gelombang semakin sejajar dengan pesisir kampung. Lama kelamaan pengikisan akan terjadi pada badan pantai tempat permukiman.
bersambung...
ditulis oleh :
bangooyi
pukul
05:29
1 komentar
Label : Lingkungan
29 June 2006
Keserakahan Eksploitasi "Batu Hijau" Penggajawa
Perubahan lingkungan senantiasa berbarengan dengan proses adaptasi manusia diaman ia berada. Kemampuan beradaptasi dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam yang tersedia dengan kemampuan yang dimilikinya merupakan perjuangan demi mempertahankan hidup atau eksistensinya dimuka bumi.
Perkembangan populasi manusia menuntut tambahan kebutuhan hidup manusia, dan ini mendorong manusia untuk lebih meningkatkan upaya eksploitasi sumber daya alam di sekitarnya guna memenuhi tuntutan hidupnya, yang cenderung mengancam kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada yang ditandai dengan adanya perubahan fenomena alam atau kerusakan fisik lingkungan yang pada gilirannya akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang akhirnya mengancam kelangsungan hidup fisis dan manusia itu sendiri.
Sejauh Mana Dampak yang Terjadi ?
Berdasarkan survey lapangan yang dilakukan oleh GERDAPALA yang Dibagi dalam 2 kawasan pemantauan : Kawasan I = 1.500 m, Kawasan 2 = 1.000 m didapatkan data bahwa masyarakat mengeksploitasi batu hijau sekitar 4,17 ton/hari atau = 417 kg/hari !!! dari 1.500 ton/tahun (yang sudah disortir) dengan pengumpulan batuan musiman = 125 s/d 350 ton/bulan.
Adapun kapasitas produksi ini tidak termasuk Limbah Batuan !!! yaitu (Batu yang dikumpul/diambil dari pantai/habitatnya yang tidak terpakai atau hasil seleksi karena tidak memenuhi syarat permintaan pasar).
Sejauh mana hubungan Pantai Batuan Hijau dan Pasir dengan Erosi Laut ?
Pantai Penggajawa dan Ndorurea akan mengalami erosi, akresi (sedimentasi) atau tetap stabil tergantung pada suplai yang masuk (sedimen lepas) dan yang meninggalkan pantai. Sedimen yang dimaksudkan adalah Batu Hijau dan Pasir. Sebagian besar permasalahan pantai Penggajawa dan Ndorurea adalah erosi/abrasi yang berlebihan. Erosi pantai terjadi apabila di pantai Penggajawa dan Ndorurea yang ditinjau mengalami kehilangan/pengurangan sedimen; artinya sedimen yang terangkut lebih besar dari yang diendapkan. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi fisik pantai sebagai penahan gelombang sekaligus berakibat berubahnya tatanan lingkungan fisik di sekitar pantai secara menyeluruh (termasuk rusaknya terumbu karang).
Hal-hal yang dilakukan
*) Pencegahan dini bila ada aktifitas/kegiatan masyarakat dan pengusaha yang cenderung mengarah pada kerusakan sumber daya alam dan lingkungan fisik pantai.
*) Menanam kembali pohon-pohon pelindung pantai seperti kelapa, waru, pandan, ketapang, nimba dan mengkudu untuk menjaga kestabilan ekosistem alam baik oleh pemrakarsa/eksploitir, pemerintah dan masyarakat dengan menanam pohon/tumbuhan baru pada areal sempadan pantai dengan tujuan mengganti fungsi bukit batu (stone dunes) yang sudah terkikis akibat galian penambangan sekaligus merapatkan kawasan hijau agar menjadi pelindung alami.
Sehingga diharapkan natinya habitat alami ketersediaan Batu lebih menjamin keberhasilan akan pelestarian lingkungan.Semoga
GERDAPALA - ENDE
ditulis oleh :
bangooyi
pukul
05:42
0
komentar
Label : Lingkungan
